Dikotil
adalah tumbuhan yang mempunyai dua kotiledon. Pada saat biji tumbuhan
dikotil berkecambah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Biji berkeping dua.
b. Dua daun lembaga terangkat keatas.
c. Akar tunggang.
d. Tulang daun menjari.
Ciri-ciri lain tumbuhan dikotil antara lain sebagai berikut:
a. Berakar tunggang yang bercabang-cabang.
b. Tulang daun menyirip atau menjari, daun tunggal atau majemuk danjarang berpelepah.
c. Batang bercabang dan memiliki cambium di antara berkas pengangkutnya.
d. Ikatan pembuluh angkut pada batang letaknya teratur.
e. Bunga memiliki bagian-bagian bunga, misalnya kelopak, mahkota,
benangsari dengan jumlah dua, 4,5 atau kelipatannya, sedangkan putik
biasanya satu buah.
Contoh Tumbuhan Dikotil
1. Euphorbiaceae (suku jarak-jarakan)
Contoh :
Ceremal
Ubi kayu
Karet
Pohon jarak
Puring
2. Mimosaceae (suku petai-petaiang)
Contoh :
Putri malu
Lamtora
Saga
3. Caesalpiniaceae (suku Johar-joharan)
Contoh :
Flamboyan
Kembang Merak
4. Malvaceae (suku kapas-kapasan)
Contoh:
Kapas/kapuk randu
5. Solanacaeae (suku terung-terungan)
Contoh :
Cabe
Tomat
Kentang
Tembakau
6. Myrtaceae (suku jambu-jambuan)
Contoh :
Jambu air
Jambu biji
Jambu monyet
Jambu batu
Cengkeh
7. Compositae
Contoh :
Bunga dahlia
Bunga matahari
Bunga Crysan
8. Papilionaceae (suku kacang-kacangan)
Contoh :
Kacang tanah
Kacang mede
Sabtu, 14 Maret 2015
Minggu, 09 November 2014
enzim
Enzim adalah molekul komples berbasis protein yang dihasilkan oleh
sel-sel. Enzim ikut terlibat dalam berbagai reaksi biokimia. Tiap-tiap
enzim yang terdapat dalam tubuh kita dapat mempengaruhi reaksi kimia
tertentu.
Enzim berperan sebagai katalis organik, enzim mempercepat kecepatan reaksi yang terjadi. Jika tidak ada enzim, reaksi kimia akan menjadi sangat lambat. Berbagai reaksi juga mungkin tidak akan terjadi jika tidak terdapat enzim yang tepat di dalam tubuh.
Enzim dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia berkali-kali lipat. Studi telah menemukan bahwa enzim dapat mempercepat reaksi kimia sampai 10 milyar kali lebih cepat. Zat kimia yang hadir pada awal proses biokimia disebut sebagai substrat, yang mengalami perubahan kimia membentuk produk akhir.
Konsentrasi substrat atau enzim dapat berdampak pada aktivitas enzim. Selain itu, kondisi lingkungan seperti suhu, pH, kehadiran inhibitor, dll turut mempengaruhi aktivitas enzim.
Dibawah ini dibahas lebih lanjut mengenai masing-masing faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim:
Enzim berperan sebagai katalis organik, enzim mempercepat kecepatan reaksi yang terjadi. Jika tidak ada enzim, reaksi kimia akan menjadi sangat lambat. Berbagai reaksi juga mungkin tidak akan terjadi jika tidak terdapat enzim yang tepat di dalam tubuh.
Enzim dapat meningkatkan kecepatan reaksi kimia berkali-kali lipat. Studi telah menemukan bahwa enzim dapat mempercepat reaksi kimia sampai 10 milyar kali lebih cepat. Zat kimia yang hadir pada awal proses biokimia disebut sebagai substrat, yang mengalami perubahan kimia membentuk produk akhir.
Konsentrasi substrat atau enzim dapat berdampak pada aktivitas enzim. Selain itu, kondisi lingkungan seperti suhu, pH, kehadiran inhibitor, dll turut mempengaruhi aktivitas enzim.
Dibawah ini dibahas lebih lanjut mengenai masing-masing faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim:
- Suhu
Semua enzim membutuhkan suhu yang cocok agar dapat bekerja dengan biak. Laju reaksi biokimia meningkat seiring kenaikan suhu. Hal ini karena panas meningkatkan energi kinetik dari molekul sehingga menyebabkan jumlah tabrakan diantara molekul-molekul meningkat.
Sedangkan dalam kondisi suhu rendah, reaksi menjadi lambat karena hanya terdapat sedikit kontak antara substrat dan enzim.
Namun, suhu yang ekstrim juga tidak baik untuk enzim. Di bawah pengaruh suhu yang sangat tinggi, molekul enzim cenderung terdistorsi, sehingga laju reaksi pun jadi menurun. Enzim yang terdenaturasi gagal melaksanakan fungsi normalnya. Dalam tubuh manusia, suhu optimum di mana kebanyakan enzim menjadi sangat aktif berada pada kisaran 35°C sampai 40°C. Ada juga beberapa enzim yang dapat bekerja lebih baik pada suhu yang lebih rendah daripada ini. - Nilai pH
Efisiensi suatu enzim sangat dipengaruhi oleh nilai pH atau derajat keasaman sekitarnya. Ini karena muatan komponen asam amino enzim berubah bersama dengan perubahan nilai pH. Secara umum, kebanyakan enzim tetap stabil dan bekerja baik pada kisaran pH 6 dan 8. Tapi, ada beberapa enzim tertentu yang bekerja dengan baik hanya di lingkungan asam atau basa.
Nilai pH yang menguntungkan bagi enzim tertentu sebenarnya tergantung pada sistem biologis tempat enzim tersebut bekerja. Ketika nilai pH menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka struktur dasar enzim dapat mengalami perubahan. Sehingga sisi aktif enzim tidak dapat mengikat substrat dengan benar, sehingga aktivitas enzim menjadi sangat terpengaruhi. Bahkan enzim dapat sampai benar-benar berhenti berfungsi. - Konsentrasi Substrat
Jelas saja konsentrasi substrat yang lebih tinggi berarti lebih banyak jumlah molekul substrat yang terlibat dengan aktivitas enzim. Sedangkan konsentrasi substrat yang rendah berarti lebih sedikit jumlah molekul substrat yang dapat melekat pada enzim, menyebabkan berkurangnya aktivitas enzim.
Tapi ketika laju enzimatik sudah mencapai maksimum dan enzim sudah dalam kondisi paling aktif, peningkatan konsentrasi substrat tidak akan memberikan perbedaan dalam aktivitas enzim. Dalam kondisi seperti ini, di sisi aktif semua enzim terus terdapat substrat, sehingga tidak ada tempat untuk substrat ekstra. - Konsentrasi Enzim
Semakin besar konsentrasi enzim maka kecepatan reaksi akan semakin cepat pula. Konsentrasi enzim berbanding lurus dengan kecepatan reaksi, tentunya selama masih ada substrat yang perlu diubah menjadi produk. - Aktivator & Inhibitor
Aktivator merupakan molekul yang membantu enzim agar mudah berikatan dengan substrat.
Inhibitor adalah substansi yang memiliki kecenderungan untuk menghambat aktivitas enzim. Inhibitor enzim memiliki dua cara berbeda mengganggu fungsi enzim. Berdasarkan caranya, inhibitor dibagi menjadi 2 kategori: inhibitor kompetitif dan inhibitor non-kompetitif.
Inhibitor kompetitif memiliki struktur yang sama dengan molekul substrat, inhibitor ini melekat pada sisi aktif enzim sehingga menghalangi pembentukan ikatan kompleks enzim-substrat.
Inhibitor non-kompetitif dapat melekat pada sisi enzim yang bukan merupakan sisi aktif, dan membentuk kompleks enzim-inhibitor. Inhibitor ini mengubah bentuk/struktur enzim, sehingga sisi aktif enzim menjadi tidak berfungsi dan substrat tidak dapat berikatan dengan enzim tersebut.
Rabu, 08 Oktober 2014
SISTEM REPRODUKSI PADA MANUSIA
REPRODUKSI MANUSIA

STANDAR KOMPETENSI DASAR
- Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses yang meliputi proses pembentukan sel kelamin, ovulasi, mentruasi, fertilisasi, kehamilan serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistim reproduksi.
KOMPETENSI DASAR :
- Menjelaskan bagian-bagian alat reproduksi pada laki-laki dan perempuan
- Menjelaskan mengenai proses pembentukan sperma dan sel telur
- Menjelaskan macam-macam hormon yang berperanan dalam daur mentruasi, kehamilan, dan proses persalinan
- Membedakan macam-macam fungsi selaput pembungkus embrio
- Menjelaskan prinsip-prinsip kontrasepsi.
Pengertian dan Tujuan
- Kemampuan organisme untuk menghasilkan organisme baru yang sama dengan dirinya
- Tujuan perkembangbiakan: agar suatu jenis mahluk hidup tidak mengalami kepunahan atau tetap lestari
SISTIM REPRODUKSI PRIA
Alat kelamin dalam
- Testes
- Epididimis
- Vas Deferens
- Saluran Ejakulasi
- Urethra
- Disebut gonad jantan
- Jumlahnya sepasang, bentuknya bulat telur
- Tersimpan dalam kantong skrotum
- Untuk memproduksi sel sperma dan hormon testosteron
- Banyak pembuluh halus (tubulus seminiferus)

EPIDIDIMIS
- Saluran yg keluar dari testes
- Salurannya panjang dan berkelol-kelok dalam skrotum
- Setiap testes pinya satu epididimis
- Tempat menyimpan sperma untuk sementara waktu
- Tempat untuk mematangkan sperma menuju vas deferens
- Saluran lanjutan dari epididimis
- Saluran lurus mengarah ke atas
- Bagian ujungnya terdapat dalam kelenjar prostat
- Untuk mengangkut sperma dari epididimis ke vesikula seminalis
- Saluran pendek dari vesikula seminalis dengan uretra
- Mampu menyemprotkan sperma tinggi masuk ke uretra
- Saluran akhir reproduksi dalam penis
- Mempunyai dua fungsi sebagai saluran urine dan saluran kelamin
- Vesikula seminalis
- Kelenjar prostata
- Kelenjar bulbourethra ( kelenjar Cowper)
- Disebut kantung mani atau vesikula seminalis
- Jumlah sepasang tetapi terikat dlm satu kantung
- Menghasilkan getah kekuningan banyak zat makanan
- Untuk memberi makan sel-sel sperma
- Menghasilkan getah yg dialirkan ke saluran sperma
- Menghasilkan getah (lendir) yg dialirkan ke uretra
- Sperma yg telah bercampur dengan cairan lain disebut semen
Alat kelamin Luar
- Penis
- Skrotum
- Alat untuk kopulasi
- Banyak pembuluh darah
- Banyak jaringan erektil (corpus cavernosum)
- Mulai berfungsi setelah puber (14 tahun)
- pembungkus testes
Spermatogenesis
- Pembentukan sperma terjadi didalam testes (buah zakar)
- Dimulai dari sel induk sperma (spermatogonia) yang bersifat diploid yang mengandung 23 pasang kromosom
- Spermatogonia membelah mitosis menghasilkan spermatozoid primer yg bersifat diploid
- Spermatozoid primer membelah reduksi (meiosis) menghasilkan spermatozoid sekunder yg haploid
- Selanjutnya spermatozoid sekunder membelah menghasilkan spermatid, yaitu calon sperma yg belum mempunyai ekor
- Sperma berkembang menjadi spermatozoa yg dilengkapi ekor
- Ekor merupakan hasil pertumbuhan dari mikrotubulus
- Setiap sperma mempunyai bagian ujung yang disebut kepala
- Pucuk kepala mengandung akrosom yg berisi enzim hialuronidase dan proteinase
- Kedua enzim ini berperan untuk menembus lapisan pelindung sel telur
- Bagian tengah sperma banyak mengandung mitokondria
- Spermatozoa orang dewasa berjumlah 200 juta
- Produksi spermatozoa dipengaruhi FSH (folicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone)
- Produksi sperma dilakukan bersamaan dengan produksi hormon testosteron
- Hormon testosteron merupakan kendali terhadap produksi FSH dan LH
- Spermatazoa yg terbentuk akan melalui saluran tubulus yg berkelok-kelok terus meninggalkan testes melalui epididimis
- Didalam epididimis spermatozoa tinggal selama kurang lebih tiga minggu hingga menjadi dewasa
- Selanjutnya spermatozoa masuk ke vas deferens
- Di ujung vas deferens spermatozoa bercampur getah produk kelenjar vesikula seminalis, prostat, dan cowperi
- Ketiga kelenjar tersebut menghasilkan getah yg menjamin kehidupan spermatozoa
- Getah ini bersifat basa, sehingga cairan semen menjadi berisifat basa
- Suasana basa ini penting untuk melindungi spermatozoa karena uretra saluran kelamin wanita bersifat asam
ALAT REPRODUKSI (KELAMIN WANITA)
A. Alat Kelamin Luar
1. Vulva
- Celah paling luar dari alat kelamin wanita
- Dibatasi sepasang bibir (kiri dan kanan)
2. Labium
- Bibir yg membatasi vulva
- Terdiri dari labium mayor dan minor
- Terdapat klitoris (klentit)
3. Vagina dan Uretra
- Tempat bermuara dua saluran : urine (uretra) dan saluran kelamin (vagina)
B. Alat kelamin dalam
1. Ovarium (indung telur)
- Jumlahnya sepasang kiri dan kanan
- Bentuknya seperti telur
- Terdapat didalam rongga badan didaerah pinggang dan disebelah kiri dan kanan tukang kemudi
- Dalam ovarium terdapat kelenjar buntu penghasil hormon estrogen dan progesteron dan sel tubuh yang bertugas membentuk sel telur (folikel)
- Seorang bayi perempuan lahir dengan sekitar 60.000 sel ini, yang terkandung dalam depresi kantung-seperti di ovarium.
- Masing-masing sel dapat memiliki potensi untuk menghasilkan untuk pemupukan, tetapi dalam kenyataannya, hanya sekitar 400 matang selama hidup wanita itu
2. Saluran Kelamin
Terdiri atas:
a. Tuba falofii (saluran telur)
- Jumlahnya sepasang kanan dan kiri
- Bagian pangkal berbentuk corong yg disebut infundibulum tuba
- Pada infundibulum tuba terdapat jumbai-jumbai yang sanagt penting untuk menangkap sel-sel telur yg dilepaskan oleh sel folikel ovarium
- Sel telur yg ditangkap jumbai-jumbai akan masuk dalam tuba falopii
- Pada daerah 1/3 bagian dari tuba ini umumnya sel telur dibuahi oleh sel sperma
- Hasil pembuahan berupa zigot
- Zigot kemudian bergerak menuju ker rahim / uterus
- Gerakan ini terjadi akibat silia atau bulu getar pada sel-sel dinding tuba falopii serta gerak peristaltik otot-otot dinding tuba falopii
b. Rahim (uterus)
- Pertemuan dua tuba falopii membentuk rongga tempat pertumbuhan embrio yang disebut rahim atau kandung peranakan
- Rahim manusia mempunyai ruang seperti buah pir
- Bagian bawah rahim mengecil yang disebut leher rahim
- Rahim tipe ini disebut tipe simpleks
- Dinding rahim terdiri atas beberapa lapisan jaringan
- Lapisan jaringan terdiri atas beberapa lapisan otot polos dan lapisan yg membatasi rongga rahim yang disebut endometrium
- Lapisan endometrium tersusun atas sel-sel epithel
- Lapisan endometrium sering disebut lapisan dinding rahim
- Lapisan endometrium banyak menghasilkan lendir dan banyak pembuluh darah
- Perubahan ketebalan dinding rahim dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu:
- Menjelang ovulasi, karena pengaruh hormon estrogen
- Setelah ovulasi, makin menebal karena pengaruh hormon progresteron
- Pada waktu menstruasi, dinding rahim tipis kembali. Setelah menstruasi dinding rahim dibentuk kembali. Ini disebut siklus menstruasi
c. Vagina (liang peranakan)
- Merupakan saluran akhir dari saluran kelamin dalam wanita
- terdapat didalam vulva
- Merupakan alat kopulasi bagi wanita
- Dinding vagina banyak lipatan-lipatan serta mempunyai selaput lendir yang banyak mengandung kelenjar
Oogenesis
- Sel telur (ovum) berasal dari oogonia (oogonium) atai sel induk telur
- Oogonia bersifat diploid yaitu mempunyai 23 pasang kromosom
- Oogonium akan tumbuh menjadi oosit primer
- Oosit primer membelah meiosis menjadi 2 sel anak yg tidak sama ukurannya
- Yang besar (normal) disebut oosit sekunder sedangkan yg kecil (kekurangan plasma sel) disebut polosit primer (badan kutub primer)
- Pembelahan dari oosit primer menjadi oosit sekunder dan polosit primer disebut meiosis I
- Selanjutnya oosit sekunder membelah meiosis II, menghasilkan ootid dan polosit sekunder II, sedangkan polosit primer menjadi dua polosit sekunder
- Jadi satu oogonium menghasilkan sebuah ootid yg akan tumbuh menjadi ovum dan tiga buah polosit sekunder
- Jadi jumlah sel akhir hasil oogenesis dan spermatogenesis berbeda. Setiap oogonium menghasilkan sebuah sedangkan setiap spermatogonium akan menghasilkan empat spermatozoa
- Hormon yg memacu proses pertumbuhan ovum adalah FSH yg dihasilkan oleh hipofisis
- FSH memacu aktivitas folikel ovarium agar sel telur masak dan memproduksi hormon estrogen
- Terbentuknya estrogen akan menghambat produksi FSH oleh hipofisis
- Terhentinya produksiFSH menyebabkan hipofisis memproduksi LH yang akan merangsang ovum keluar dari folikel
- Proses pelepasan sel telur yg telah matang dari folikel disebut ovulasi
- Dalam ovulasi hanya ada satu sel telur yg dilepaskan
- Folikel kosong yg ditinggalkan ovum akan dipacu oleh LH menjadi korpus luteun (badan berwarna kuning)
- Korpus luteum akan menghasilkan estrogen dan progresteron
- Progresteron akan menghambat produksi LH oleh hipofisis yg memungkinkan tertahannya korpus luteum
- Progresteron yg dihasilkan korpus luteum akan mempengaruhi perubahan pada dinding rahim
- Dinding rahim (endometrium) siap untuk tempat implantasi sel telur yg telah dibuahi (zigot)
- Sel telur yg meninggalkan ovarium akan ditangkap oleh fimbria dari corong yg terbuka (infundibulum) dari oviduk
- Zigot yg dihasilkan akan bergerak menuju ke rahim
- Disinilah zigot tumbuh yg didukung oleh endometrium rahim dan suplai makanan dan
Hormon Penting dalam Menstruasi, Kehamilan, Persalinan
1. Menstruasi
a. Fase menstruasi : estrogen dan progesteron
b. Fase praovulasi : hormone gonadotropin merangsang mengeluarkan FSH
c. Fase ovulasi : estrogen tinggi
d. Fase pasca ovulasi : estrogen dan progesteron
2. Kehamilan
a. Progresteron dan estrogen
b. Prolaktin
c. Gonadotropin
d. Relaksin
3. Kelahiran
a. relaksin
b. Estrogen
c. Prostaglandin
d. Oksitosin
FERTILISASI
- Proses berfusinya sel telur dengan sperma.
- Fertilisasi diawali dengan kopulasi
KEHAMILAN
- Berkembangnya embrio di dalam uterus sejak fertilisasi terjadi hingga dilahirkan
- Waktu kehamilan manusia berkisar 266 hari ( 38 minggu )
- Setelah fertilisasi, zigot berkembang menjadi morula®blastula®gastrula®dan selanjutnya menuju rahim dan menempel didinding uterus.
- Zigot berkembang menjadi embrio dan kemudian menjadi janin. Janin mendapat makanan dari tubuh induknya dengan perantaraan plasenta atau ari-ari.
Selaput pembungkus embrio terdiri atas bagian-bagian :
- Amnion, menghasilkan cairan ketuban berguna untuk menjaga agar embrio tetap basah dan tahan goncangan.
- Korion, terdapat pembuluh pembuluh darah yang berhubungan dengan peredaran darah induknya dengan perantaraan plasenta. Organ pemberi nutrisi bagi embrio.
- Alantois berfungsi menghubungkan sirkulasi embrio dengan plasenta
- Kantong kuning telur/ sakus vitelinus , berfungsi menyediakan makanan utama bagi embrio.
- Plasenta / ari-ari berfungsi :
PLASENTA
- untuk pertukaran gas, makanan, dan zat sisa antara ibu dan anak.
- melindungi janin dari serangan mikroorganisme dan menghasilkan hormon.
PERSALINAN
- Otot rahim berkontraksi, serviks membesar, dan bayi didorong ke luar. Pada saat tertekan, amnion pecah, cairan amnion keluar bersama bayi untuk melicinkan jalan keluar.
- Pemotongan tali pusat dilakukan beberapa saat setelah bayi keluar.
- Keluarnya plasenta terjadi kira-kira tiga puluh menit setelah bayi keluar karena dinding rahim berkontraksi lagi.
KELAINAN/ PENYAKIT PADA SISTIM REPRODUKSI MANUSIA
1. Ketidaksuburan pada perempuan
- Penyumbatan saluran telur
- Endometriosis : kelainan ditandai adanya lapisan endometrium diluar tempat yang
seharusnya
2. Ketidaksuburan pada laki-laki
Jumlah sperma sedikit atau bentuk sperma tidak normal
4. Tumor prostat
5. Kelainan letak plasenta atau embrio
6. Kanker leher rahim
TEKNOLOGI REPRODUKSI
1. Inseminasi buatan
- Terapan teknologi yang dilakukan dengan cara memasukkan sperma ke dalam vagina oleh seorang ahli kesehatan
2. Bayi tabung
- Terapan teknologi terhadap perempuan yang sel telurnya tidak dapat turun ke dalam oviduk
3. Intracytoplasmik sperm injection (ICSI)
- Terapan teknologi dengan metode dan prosedur yang lebih canggih
Pengontrolan kehamilan
- Tujuan untuk mengatur kehamilan
- Menggunakan alat kontrasepsi baik secara mekanis maupun kimiawi
- Pengontolan kehamilan secara mekanis :
- IUD : menghalangi implantasi
- Diafragma : mencegah sperma masuk uterus
- Kondom : mencegah sperma masuk vagina
- Pengontrolan secara kimiawi :
- Spermisida baik dalam bentuk busa, jeli atau tablet : mematikan sperma
- Penggunaan kontrasepsi secara oral berupa pil : mengandung hormon sintetik estrogen dan progesteron yang dapat mencegah ovulasi.
- Sterilisasi : mencegah kehamilan dengan tingkat keberhasilan 100%
- Vasektomi :pemotongan dan pengikatan vas deferens
- Tubektomi :pemotongan dan pengikatan tuba fallopii
Jumat, 26 September 2014
EPITEL
Jaringan epitel merupakan jaringan yang melapisi seluruh
permukaan tubuh. Jaringan epitel membatasi antara organ-organ tubuh dengan
rongga tubuh. Sel sel penyusun jaringan epitel sangat erat satu sama
lainnya.
Struktur yang sangat erat ini berhubungan dengan fungsi
jaringan epitel sebagai alat pertahanan dari benturan atau luka, mikroorganisme,
dan hilangnya cairan. Contoh jaringan epitel yaitu pada kulit, saluran
pernapasan, pembuluh darah, dan rongga perut.
Terdapat dua pengelompokan jaringan epitel, yaitu berdasarkan
jumlah lapisan selnya dan berdasarkan bentuk selnya. Berdasarkan jumlah lapisan
selnya, jaringan epitel dibagi menjadi jaringan epitel selapis (sederhana) dan
jaringan epitel berlapis. Adapun berdasarkan bentuk selnya, jaringan epitel
dibedakan menjadi epitel pipih, epitel kubus, dan epitel silindris. Perhatikan
gambar berikut.
| Jaringan epitel pada beberapa organ tubuh hewan |
Jaringan epitel pada beberapa organ tubuh hewan :
Epitel Pipih Selapis
Sesuai dengan namanya, jaringan epitel pipih tersusun atas
sel-sel dengan bentuk pipih dan hanya satu lapis. Jaringan ini terdapat pada
pembuluh darah, pembuluh limfa, dan alveoli (paru-paru). Jaringan epitel pipih
selapis berperan dalam proses difusi oksigen dan karbon dioksida serta filtrasi
darah pada ginjal.
Epitel Pipih Berlapis
Epitel pipih berlapis tersusun atas beberapa lapis sel-sel
pipih. Sel-sel epitel pipih memiliki sitoplasma yang jernih dan inti sel
berbentuk bulat. Jaringan ini di antaranya terdapat pada rongga mulut, rongga
hidung, dan kerongkongan. Sesuai dengan jumlah lapisannya yang banyak, jaringan
ini berperan sebagai pelindung, misalnya terhadap gesekan.
| (a) Epitel pipih selapis, (b) epitel pipih berlapis, dan (c) epitel kubus selapis |
Epitel Kubus Selapis
Jaringan ini tersusun atas selapis sel-sel berbentuk kubus.
Epitel kubus selapis di antaranya terdapat pada saluran kelenjar ludah, kelenjar
keringat, dan saluran pada ginjal. Struktur jaringan ini sangat sesuai untuk
proses absorpsi dan sekresi.
Epitel Kubus Berlapis
Jaringan ini tersusun atas beberapa lapis sel-sel berbentuk
kubus. Epitel kubus berlapis terdapat pada mulut, kerongkongan, dan kelenjar
keringat pada kulit. Sesuai dengan strukturnya, jaringan ini berperan sebagai
pelindung dari gesekan.
Epitel Silindris Selapis
Epitel silindris selapis tersusun atas sel-sel berbentuk
silinder. Pada jaringan ini, biasanya terdapat sel-sel goblet. Sel goblet
berfungsi dalam menghasilkan lendir (mucus) yang berperan dalam mempermudah
penyerapan makanan (absorpsi). Biasanya, jaringan ini terdapat pada usus halus
dan saluran pencernaan lainnya.
Epitel Silindris Berlapis
Epitel silindris berlapis tersusun atas lebih dari satu lapis
sel-sel berbentuk silinder. Epitel silindris berlapis terdapat pada saluran
kelenjar ludah, kelenjar susu, uretra, dan laring. Jaringan ini berperan dalam
proses sekresi. Biasanya, jaringan ini berada pada lapisan paling luar.
Epitel Silindris Berlapis Semu Bersilia
Epitel silindris berlapis semu bersilia tersusun atas sel-sel
yang memiliki inti sel tidak sejajar sehingga seolah-olah epitel tersebut
terdiri atas banyak lapisan. Pada jaringan ini terdapat silia yang berfungsi
menggerakkan partikel yang berada di atasnya. Misalnya, kotoran atau debu tidak
akan masuk ke dalam paru-paru karena digerakkan oleh silia pada sel-sel saluran
pernapasan. Jaringan ini terdapat pada saluran pernapasan, rongga hidung, dan
saluran telur (tuba Fallopi).
| Epitel silindris berlapis semu bersilia pada trakea manusia |
Epitel Transisi
Epitel transisi terdiri atas berlapis-lapis sel. Akan tetapi,
sel-sel penyusun jaringan ini selalu berubah bentuknya. Pada keadaan tegang,
sel-sel tersebut berbentuk lebih pipih dan panjang. Adapun pada keadaan normal
(relaksasi), sel-selnya berbentuk bulat dan besar. Jaringan ini banyak terdapat
di kandung kemih, saluran ureter, dan ginjal.
| Jaringan epitel transisi pada ureter |
Epitel Kelenjar
Epitel kelenjar tersusun atas, beberapa jaringan epitel yang
memiliki peran dalam penyerapan (absorpsi) dan menyekresikan senyawa kimia.
Misalnya, sel-sel epitel yang terdapat pada rongga (lumen) dari rongga
pencernaan memiliki kemampuan untuk menyekresikan mucus. Mucus tersebut
berfungsi menjaga kelembapan permukaan organ pencernaan.
Terdapat dua jenis kelenjar, yaitu kelenjar eksokrin dan
kelenjar endokrin. Pada kelenjar eksokrin, hasil sekresinya langsung menuju
permukaan epitel. Adapun pada kelenjar eksokrin, hasil sekresinya akan dialirkan
bersama-sama darah. Contoh kelenjar endokrin adalah kelenjar keringat, sedangkan
contoh kelenjar endokrin adalah kelenjar pituitari . Menurut bentuknya, epitel
kelenjar terbagi menjadi tiga, yaitu epitel kelenjar uniseluler, epitel kelenjar
multiseluler, dan epitel kelenjar campuran.
RESPIRASI ANAEROB
Penjelasan Tentang Respirasi anaerob - Respirasi anaerob adalah proses respirasi yang tidak memerlukan oksigen.
Salah satu contoh proses ini adalah proses fermentasi. Respirasi anaerob dapat
terjadi pada manusia dan hewan jika tubuh memerlukan energi secara cepat. Pada
mikroorganisme seperti bakteri dan jamur, respirasi anaerob dilakukan karena
keadaan lingkungan yang tidak memungkinkan dan belum memiliki sistem metabolisme
yang kompleks.
Mengapa respirasi anaerob dapat terjadi dan berapa banyak energi yang
dihasilkannya? Masih ingatkah Anda tahap glikolisis pada respirasi aerob? Pada
tahap tersebut, glukosa dapat dipecah untuk menghasilkan total 2 ATP dan tidak
memerlukan oksigen. Meskipun energi yang dihasilkannya jauh lebih kecil daripada
respirasi aerob, jumlah ini cukup bagi mikroorganisme dan energi awal bagi
hewan.
Selain menghasilkan ATP, glikolisis juga menghasilkan NADH dan
NAD+. Tanpa suplai NAD+ yang memadai, proses glikolisis
pada respirasi anaerob dapat terhenti. Oleh karena itu, organisme yang melakukan
respirasi anaerob harus mampu mengoksidasi NADH menjadi NAD+ kembali.
Berdasarkan hal tersebut terdapat dua cara respirasi anaerob yang dilakukan
organisme.
Fermentasi alkohol
Beberapa organisme seperti khamir (Saccharomyces cereviceace) melakukan
fermentasi alkohol. Organisme ini mengubah glukosa melalui fermentasi menjadi
alkohol (etanol).
| Bagan fermentasi alkohol |
Proses fermentasi alkohol diawali dengan pemecahan satu molekul glukosa
menjadi dua molekul asam piruvat. Pada proses tersebut, dibentuk juga 2 ATP dan
2 NADH. Setiap asam piruvat diubah menjadi asetildehid dengan membebaskan
CO2. Asetildehid diubah menjadi etanol dan NADH diubah menjadi
NAD+ untuk selanjutnya digunakan dalam glikolisis kembali.
Fermentasi alkohol merupakan jenis fermentasi yang banyak digunakan manusia
selama ribuan tahun dalam pengolahan bahan makanan. Khamir banyak digunakan
dalam pembuatan roti dan minuman beralkohol
Fermentasi Asam Laktat
Sama halnya dengan fermentasi alkohol, fermentasi asam laktat dimulai dengan
tahap glikolisis. Fermentasi asam laktat dilakukan oleh sel otot dan beberapa
sel lainnya, serta beberapa bakteri asam laktat. Pada otot, proses ini dapat
menyediakan energi yang dibutuhkan secara cepat. Akan tetapi, penumpukan asam
laktat berlebih dapat menyebabkan otot lelah. Asam laktat berlebih dibawa darah
menuju hati untuk diubah kembali menjadi asam piruvat. Industri susu menggunakan
fermentasi asam laktat oleh bakteri untuk membuat keju dan yoghurt.
Glukosa akan dipecah menjadi 2 molekul asam piruvat melalui glikolisis, membentuk 2 ATP dan 2 NADH. NADH diubah kembali menjadi NAD+ saat pembentukan asam laktat dari asam piruvat. Fermentasi asam laktat tidak menghasilkan CO2, seperti halnya fermentasi alkohol.
| Bagan fermentasi asam laktat |
Glukosa akan dipecah menjadi 2 molekul asam piruvat melalui glikolisis, membentuk 2 ATP dan 2 NADH. NADH diubah kembali menjadi NAD+ saat pembentukan asam laktat dari asam piruvat. Fermentasi asam laktat tidak menghasilkan CO2, seperti halnya fermentasi alkohol.
PENJELASAN TENTANG JARINGAN IKAT
Jaringan ikat berfungsi mengikat dan mendukung jaringan lainnya. Sebaliknya dari
jaringan epitel, jaringan ikat memiliki kumpulan sel yang tipis dan renggang.
Berdasarkan struktur dan fungsinya, jaringan ikat dibagi menjadi jaringan ikat
longgar, jaringan ikat padat, jaringan lemak, jaringan tulang, dan jaringan
darah. Perhatikan Gambar berikut.
| Beberapa jaringan ikat pada hewan |
Jaringan Ikat Longgar
Jaringan ini tersusun atas serat-serat yang longgar. Jaringan
ikat longgar berfungsi memberi bentuk pada organ-organ dalam, serta menyokong
dan menghubungkan komponen jaringan lain. Jaringan ini tersusun atas
bermacam-macam serabut (fiber) dan selsel. Terdapat dua macam serabut (fiber)
pada jaringan ikat longgar, yaitu serabut kolagen dan serabut elastin. Adapun
sel-sel yang terdapat pada jaringan ini, antara lain sel mastosit, sel darah
putih, makrofag, dan sel lemak. Contoh jaringan ikat padat adalah jaringan di
bawah kulit, serta jaringan yang membatasi jantung dan rongga perut. Perhatikan
Gambar berikut.
| Penyusun jaringan ikat longgar |
Jaringan Ikat Padat
Jaringan ini tersusun atas serat-serat yang padat. Komponen
utama jaringan ikat padat adalah serabut kolagen. Serabut kolagen tersebut
bergabung membentuk bundel-bundel yang paralel. Jaringan ini dapat ditemukan
pada tendon yang menghubungkan otot dengan tulang, serta ligamen yang
menghubungkan antartulang melalui sendi.
| (a) Jaringan ikat padat dan (b) struktur serabut kolagen |
Jaringan Lemak
Jaringan lemak memiliki susunan menyerupai jaringan ikat
longgar yang tersusun atas sel-sel lemak. Sel-sel lemak yang mengandung lemak
tersebut di dalam matriks jaringan lemak. Setiap sel lemak berisi tetes lemak
(fat droplet) yang mengisi hampir seluruh isi sel. Jaringan lemak dapat
ditemukan di bawah kulit, ginjal, dan jantung. Fungsi jaringan lemak, antara
lain sebagai cadangan makanan dan menjaga hilangnya panas secara berlebihan.
| Jaringan lemak |
Jaringan Tulang
Jaringan tulang tersusun atas sel-sel yang terkumpul dalam
matriks. Jaringan tulang dibagi menjadi dua, yaitu jaringan tulang rawan dan
jaringan tulang keras.
Jaringan tulang
rawan
Jaringan tulang rawan (kartilago) tersusun atas sel-sel yang
disebut kondrosit. Sel-sel kondrosit berada di dalam lakuna. Matriks pada
jaringan tulang rawan tersusun atas serabut kolagen dan serabut elastin.
Terdapat tiga jenis tulang rawan, yaitu tulang rawan hialin, tulang rawan
elastin, dan tulang rawan serabut (fibrosa).
Tulang rawan hialin merupakan bentuk sel tulang rawan yang
matriksnya tidak mengandung serabut. Contoh tulang rawan hialin terletak pada
cuping hidung. Tulang rawan elastin merupakan tulang rawan yang matriksnya
tersusun atas serabut elastin. Contoh tulang rawan ini terdapat pada daun
telinga dan laring. Adapun tulang rawan fibrosa merupakan tulang rawan yang
matriksnya memiliki serabut kolagen yang padat sehingga tulang rawan ini tampak
kaku dan liat. Contoh tulang rawan fibrosa adalah pada tulang sambungan
antarruas tulang belakang. Perhatikan gambar berikut.
| (a) Tulang rawan hialin, (b) tulang rawan elastin, dan (c) tulang rawan fibrosa |
Jaringan tulang
keras
Jaringan ini tersusun atas sel-sel osteoblast. Sel-sel
osteoblast terletak di dalam lakuna. Sel-sel osteoblast yang terjebak dalam
sekretnya sendiri disebut osteosit. Antara osteosit yang satu dengan yang lain
dihubungkan oleh kanalikuli.
Jaringan tulang keras ini tersusun atas unit-unit yang
dinamakan sistem Harvers. Di dalam setiap sistem Harvers terdapat pembuluh darah
sebagai penyuplai zat makanan bagi tulang, perhatikan gambar berikut.
| Struktur tulang keras |
Jaringan Darah
Meskipun memiliki fungsi yang berbeda, darah masuk ke dalam
pengelompokan jaringan ikat karena memiliki matriks ekstraselular. Matriks pada
darah tersusun atas plasma darah dan sel-sel darah. Plasma darah terususun atas
air, garam, dan berbagai protein. Di dalam plasma darah terletak sel-sel darah
yang terdiri atas sel darah merah (eritrosit) dan sel darah putih (leukosit).
Selain itu, di dalam plasma darah terdapat keping darah (trombosit).
| Struktur jaringan darah |
Eritrosit tidak memiliki inti sel. Fungsi utama eritrosit adalah mengikat dan
mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Trombosit berperan dalam proses pembekuan
darah. Eritrosit dan trombosit melakukan fungsi utamanya di dalam pembuluh
darah. Sebaliknya, leukosit melakukan fungsi utamanya di luar pembuluh darah.
Leukosit berperan dalam sistem pertahanan tubuh.
MEKANISME SINTESIS PROTEIN
Penjelasan Tentang Mekanisme Sintesis Protein - Seperti yang telah Anda ketahui, DNA menentukan sifat makhluk hidup. DNA
menentukan urutan asam amino pada setiap protein yang disintesis. Proses
sintesis protein adalah proses yang kompleks. Dalam proses tersebut diperlukan
20 macam asam amino; mRNA dan tRNA sebagai pelaksana; ATP sebagai sumber energi;
enzim RNA polimerase. Secara garis besar, sintesis protein dilakukan melalui dua
tahap, yaitu tahap transkripsi dan tahap translasi.
Transkripsi
Proses transkripsi, sesuai namanya merupakan proses pencetakan atau penulisan
ulang DNA ke dalam mRNA. Proses ini terjadi di dalam nukleus. Pada tahap ini,
setiap basa nitrogen DNA dikodekan ke dalam basa nitrogen RNA. Misalnya, jika
urutan basa nitrogen DNA adalah ACG TAG CTA, maka urutan mRNA hasil transkripsi
adalah UGC AUC GAU.
| Proses pembentukan mRNA atau transkripsi. |
| Contoh transkripsi urutan basa nitrogen DNA ke dalam mRNA. |
Tahap transkripsi dapat dibagi lagi menjadi tiga tahap, yaitu iniasi,
elongasi, dan terminasi.
Inisiasi
Tahap ini diawali oleh melekatnya enzim RNA polimerase pada pita DNA pada
titik awal. Pita DNA akan terbuka, akibatnya basa nitrogen pada pita tersebut
menjadi bebas. Basa nitrogen pada salah satu pita tersebut akan menjadi cetakan
mRNA. Pita DNA ini disebut juga pita bermakna atau sense. Adapun pita yang tidak
ditranskripsi disebut pita tak bermakna atau antisense. Enzim RNA polimerase
mulai menyintesis RNA dari titik awal pita.
Elongasi (pemanjangan)
Enzim RNA polimerase akan terus membentuk mRNA
hingga terbentuk pita mRNA. Pita mRNA ini akan terus memanjang. Oleh karena itu,
tahap ini disebut tahap elongasi.
Terminasi
Pada saat enzim RNA polimerase sampai pada tempat pemberhentian
(terminal site) DNA, transkripsi akan terhenti. Setelah itu, mRNA dibebaskan dan
RNA polimerase terlepas dari DNA. DNA akan kembali seperti bentuknya semula.
Hasil dari transkripsi, yakni mRNA selanjutnya akan keluar dari inti sel melalui
membran inti menuju sitoplasma.
Translasi
Tahap translasi adalah tahap penerjemahan kode mRNA oleh tRNA ke dalam urutan
asam amino. Tahap ini terjadi di dalam sitoplasma dengan bantuan ribosom.
Ribosom merupakan salah satu organel dalam sitoplasma yang berperan dalam
sintesis protein. Ribosom terdiri atas dua bagian, yaitu subunit besar dan
subunit kecil. Ribosom mengandung protein dan rRNA.
| Subunit besar dan subunit kecil pada ribosom |
Tahap translasi mirip tahap transkripsi. Keduanya menggunakan enzim untuk
membuat rantai polimer polinukleotida pada transkripsi dan polipeptida pada
translasi. Pada proses translasi juga terjadi tahap inisiasi, elongasi, dan
terminasi. Pada tahap translasi kode genetik atau kodon dari mRNA diterjemahkan
menjadi rangkaian asam amino. Apakah kodon itu? Kodon merupakan urutan tiga basa
nitrogen pada mRNA. Setiap urutan tiga basa tersebut memiliki arti khusus yang
dapat diterjemahkan dalam proses translasi. Urutan tiga basa tersebut dikenal
sebagai triplet. Misalnya, AUG, AAA, UCA, dan UUA.
Kodon pada mRNA dikenali oleh antikodon pada tRNA. Jika urutan triplet
pada mRNA adalah AUG AAA UCA UUA maka urutan antikodonya adalah UAC UUU AGU AAU.
Triplet antikodon terletak pada salah satu sisi tRNA. Pada sisi yang lain, tRNA
membawa asam amino yang sesuai dengan pesanan kodon.
Dari 64 macam triplet kodon, terdapat 61 macam yang dapat mengodekan 20 macam
asam amino. Akibatnya, terdapat beberapa asam amino yang dapat dikodekan oleh
lebih dari satu triplet atau disebut juga kodon sinonim. Tiga triplet lainnya
tidak mengodekan asam amino, tetapi berfungsi sebagai kodon to , triplet yang
memerintahkan penghentian proses translasi. Selain kodon stop, terdapat juga
kodon ta t yang memerintahkan dimulainya proses translasi, yaitu kodon AUG dan
berfungsi juga sebagai pengode asam amino metionin.
Translasi dimulai ketika mRNA dan tRNA inisiator berikatan dengan ribosom
subunit kecil. Molekul tRNA inisiator merupakan molekul yang membawa asam amino
pertama dan merupakan komplemen kodon AUG (kodon start). Biasanya membawa asam
amino metionin. Antikodon pada tRNA inisiator adalah UAC. Setelah itu, ribosom
subunit besar berikatan dengan ribosom subunit kecil. Fase inisiasi ini sempurna
setelah terbentuknya ribosom yang fungsional.
| Tahap inisiasi pada translasi |
Elongasi terjadi setelah tRNA kedua berikatan dengan kodon selanjutnya
setelah kodon start. Misalnya, kodon lain setelah kodon start adalah GUC, maka
akan berikatan dengan antikodon tRNA CAG yang membawa asam amino valin. Kedua
asam amino, metionin dan valin, akan berikatan dengan bantuan enzim peptidil
transferase.
Setelah metionin dan valin berikatan, tRNAmet yang awalnya membawa
metionin, dilepaskan dari ribosom. Kemudian, ribosom bergerak pada molekul mRNA
sepanjang satu kodon. Pergerakan ini membuat tRNAval bergerak ke
tempat yang ditinggalkan tRNAmet. Molekul tRNA ketiga, kemudian
berikatan dengan kodon mRNA ketiga dan membawa asam amino lainnya. Proses
elongasi ini terus mengikatkan asam amino hingga terbentuk rantai polipeptida.
| Langkah elongasi pada translasi |
Translasi terhenti ketika ribosom mencapai kodon stop pada mRNA. Kodon stop
tidak berikatan dengan tRNA, namun ia berikatan dengan protein khusus yang
disebut release factors (faktor pelepas). Faktor pelepas menghentikan translasi
dan menghidrolisis ikatan antara asam amino terakhir pada rantai polipeptida
baru dan tRNA-nya Pada proses sintesis protein, satu macam gen umumnya hanya
mengatur satu sintesis polipeptida. Polipeptida yang terbentuk terlebih dahulu
dimodifikasi untuk menjadi protein yang fungsional. Misalnya, beberapa
polipeptida harus disatukan untuk membentuk satu protein yang memiliki fungsi
tertentu.
| Translasi berakhir ketika ribosom mencapai stop kodon |
Langganan:
Postingan (Atom)
